Langsung ke konten utama

Rain, Not Memories

Gambar: Ilustrasi bagaimana puisi ini di tulis, di tepi jalan kodam Brawijaya ia sedang berteduh, menanti redanya hujan atau mungkin sengaja menunggu hujan. Karena setiap kali hujan, kerinduan itu datang (Mei 2017)

oleh: Gadis*

Bowed my head slowly
Fill all the days
Desolate, uninhabited quiet
Just be friend the time
 
In my own imagination
Go, run and wait
An untreated inner wound
Killed the cruel shadows of dreams
 
The past has been dispersed
Change as the sun comes
A glimmer of rainbow rays
Flick the happy blanket of heart
 
Many hearts fall down
Unstoppable body flying
Flying up to the clouds
Unable to resist the wasted inner turmoil
 
heart....
Which I will heart
Not a promise without evidence
Just a word in a dream
 
blank...
No contain ...
Like a dead brain
 
go...
I ran
I will seek the heart
In the rain a thousand years later 

*Adalah gadis yang hobinya bercerita dan mengirimkan surat secara tersirat, suka hujan tetapi anti air

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Untuk Lily

Dok. Internet| Gagal mencari ilustrasi untuk si Lily “Sebuah Cerpen yang mengisahkan tentang sepasang kawan yang hobinya bercerita melalui surat. Surat nya berisi tentang jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh karibnya, hingga ia mengungkapkan melalui surat yang dituliskan untuk Lily…..” Apa kabar Lily, lama tak pernah menyapamu, terakhir bulan Februari tahun lalu. Setelah itu dan kejadian itu aku tak sempat lagi menyapamu. Semoga kau tak pendendam sepertiku, memaafkanku dengan senyum tulusmu. Kau masih ingat Lily, tentang kebimbanganku pada sesuatu kala itu. Hingga pada akhirnya aku memutuskan ……., dan beginilah. Entah mengapa setelah senja tadi, seketika ingin menuliskan sesuatu kepadamu. Saat aku berjalan menuju masjid, terlihat keindahan bulan yang bulat sempurna, dengan warna terang dan sedikit bias pelangi menghiasi. Oh, ternyata penampakan itu lebih indah daripada senja yang aku sesali karena kemacetan jalan A. Yani tadi, yang tak sempat ku saksika...

Surat Untuk Mantan (PU)

Gambar: Goa Wareh -Pati  “Surat ini saya kirimkan sebagai balasan untuk seseorang yang sudah menuliskan balasannya melalui akun facebooknya. Ia berkata jika balasan saya banyak sekali, itulah saya saat mencerca. Eh bersastra. Mohon maaf, jika lambat membalas suratnya, maklum lah meski jomblo tapi banyak yang dikerjakannya.” Ia adalah mantan, bukan mantan kekasih seperti layaknya teman-teman yang menuliskan suratnya untuk mantan jika hendak balikan lantaran gagal move on atau  sekedar menyapa say hallo, mantan. Juga bukan mantan nama sebuah jajan yang sedang booming dipromosikan. Menurut seseorang yang sekarang menuju maqom ma’rifat, ia mengatakan dalam statusnya beberapa bulan lalu, tidak ada istilah mantan. Semuanya adalah sahabat dan teman, pacar adalah teman yang pernah satu misi dan visi, putus bukan berarti dijuluki mantan, ia tetap teman yang sudah beda visi, sejatinya harus kita sapa dan bersikap sedia kala. Lalu kenapa saya menggunakan istilah man...